Konsultan untuk Midterm Review Pilar Difable Program Peduli

Kerangka Kerja

Midterm
Review P
rogram Peduli Pilar Difabel

“Mendorong Inklusi Sosial bagi Difabel (Orang dengan
Disabilitas)

 

Latar Belakang

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) – Mandiri

Pada tahun 2007, Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) – Mandiri. PNPM Mandiri menyatukan berbagai
inisiatif pembangunan berbasis masyarakat di Indonesia yang bermanfaat bagi
masyarakat miskin melalui

peningkatan kondisi sosial ekonomi dan tata kelola pemerintahan. Pada
tahun 2013, PNPM telah menjangkau setiap kecamatan di Indonesia dan ini
merupakan program pembangunan berbasis masyarakat terbesar di dunia.

Sebuah studi oleh Akatiga pada tahun 2010 mengidentifikasi bahwa
kelompok-kelompok terpinggirkan ternyata juga terpinggirkan dalam proses
pengambilan keputusan dalam PNPM. Mereka adalah kelompok masyarakat yang karena
hambatan fisik dan budaya seperti difabel, kelas, etnis, agama dan norma-norma
gender yang disandangnya telah dikecualikan kesertaanya sebagai anggota satu
masyarakat. Partisipasi mereka dipengaruhi oleh diskriminasi dan stigma. Untuk
mengatasi masalah ini, pemerintah pun menginisiasi hadirnya PNPM Peduli yang
memberi bobot kemitraannya dengan LSM pada penjangkauan kelompok masyarakat
yang paling terpinggirkansebagai penerima manfaat.

 

Pada tahap uji coba (2011-2012), program ini dikelola oleh Program
Support Facility (PSF) Bank Dunia dengan dua bagian: PNPM Peduli, dan DPO
Windows. Maksud dari dua initatif ini adalah bermitra dengan puluhan LSM
setempat melalui mitra payung yang akan mengelola dana hibah dan pelaksanaan
program.

 

PNPM Peduli tahap I menjangkau kelompok masyarakat adat, petani tak
bertanah, perempuan kepala keluarga, pemulung, korban pelanggaran berat hak
asasi manusia, minoritas agama dan etnis, waria dan anak-anak jalanan. Dana
hibah dikelola oleh beberapa LSM Payung. Mereka adalah Kemitraan, PKBI dan
Lakpesdam NU. Sedangkan DPOW, pada periode ini sulit untuk mendapatkan Lembaga Payung.
Program untuk kaum difabel, oleh PSF diarahkan untuk fokus ke Indonesia Timur.
Tim DPOW berhasil melaksaanakan pemetaan DPO yang berada di Kawasan Timur
Indonesia. Oleh karena Lembaga Payung belum ditemukan, dana hibah ke DPO belum
dimulai. Akan tetapi, jaringan DPO yang ditemukan sekerang semakin terlibat
dalam kegiatan PSF, antara lain sebagai Trainer Fasilitator PNPM tentang
kebutuhan kaum difabel, dan cara membuat PNPM lebih inklusif. Pada tahun
2013-14, trainer tersebut dikembangkan, dan uji coba di Sumba.

 

Desain PNPM Peduli
Fase 2

Pada tahap evaluasi eksternal Peduli Fase 1 teridentifikasikan berbagai
kendala yang kompleks yang dialami oleh kelompok-kelompok yang terpinggirkan
dan satu pembelajaran tentang intervensi yang musti dihadirkan untuk mengurangi
dampak keterisolasian kelompok terpinggirkan.

 

Pada bulan Oktober 2012, review independen dilakukan untuk menilai
pencapaian program Peduli tahap I. Hasil review ini, selain menjadi bahan
laporan tahunan PSF untuk PNPM Peduli tahun 2013, juga dipakai sebagai dasar
pengembangan kelanjutan PNPM Peduli tahap I. Apabila PNPM Peduli tahap I
terlalu memberi penekanan pada pengurangan kemiskinan seperti tampak pada
program peningkatan kesempatan ekonomi, dan akses ke pelayanan kesehatan dan
pendidikan maka PNMP Peduli tahap II direkomendasikan untuk memberi penekanan
pada inklusi sosial. Sehingga selain akses pelyanan, PNPM Peduli II akan focus
pada isu-isu eksklusi sosial seperti stigmatisasi, diskriminasi, hak dan
keadilan sosial, dengan pendekatan dua arah yaitu pendekatan penguatan pada
pihak yang terpinggirkan dan pendekatan perubahan perilaku pada masyarakat
khalayak, maupun pemerintah untuk terwujudnya penerimaan dan toleransi. Di satu sisi membangun
kapasitas kaum yang dieksklusikan agar terminimalisir prasangka buruk atasnya.
Pada sisi satunya, membangun penerimaan khalayak terhadap kaum yang
dipinggirkan. Dengan demikian, paradigma PEDULI 2 bukan lagi menggunakan
pendekatan “proyek”, sebagaimana dalam PEDULI 1, akan tetapi menggunakan pendekatan
“program dan gerakan”.

 

The Asia Foundation (TAF) telah dipilih untuk mengelola pelaksanaan PNPM
Peduli Tahap II sebagai Managing Partner, menggantikan peran Bank Dunia
sebelumnya. Kemudian program DPOW akan transisi menjadi bagian PNPM Peduli
Tahap II, mulai pada bulan Agustus 2014. Desain program Peduli Tahap II adalah
sebagai berikutnya:

Program Pilar:

Peduli tahap II menyasar sekitar 6 kelompok masyarakat yang tersingkir
dari masyarakat khalayak. Mereka adalah:

 

  • Masyarakat
    adat dan lokal terpencil yang tergantung sumber daya alam
  • Agama
    minoritas yang mengalamai diskriminasi dan kemiskinan
  • Korban
    pelanggaran HAM berat
  • Waria
  • Anak dan
    Remaja rentan
  • Kaum Difabel 

LSM Payung yang dilanjutkan dari Fase 1 adalah: Kemitraan (masyarakat
hutan), Lakpesdam NU (minoritas agama), IKA (korban HAM) dan PKBI (waria dan
remaja rentan). Kemudian LSM Payung baru adalah LPKP dan SAMIN (anak rentan)
serta Satunama (minoritas agama).   Untuk
program difabel, diputuskan untuk memberikan hibah program langsung kepada 6
mitra CSO terpilih (Yayasan Bahtera, SIGAB, SAPDA, KARINA KAS, PATTIRO dan
YASMIB).

 

Technical Working Group

Untuk menjaga keterukuran dan kualitas program, TAF melibatkan ahli, praktisi sosial, dalam mempertajam desain
pendekatan demi tercapainya inklusi sosial di masing-masing kelompok sasaran.
Sebuah kelompok kerja teknis, ‘Technical
Working Group’
– TWG dihadirkan di setiap pilar program dengan tugas antara
lain adalah menerangjelaskan area eksklusi yang secara khas dialami setiap
kelompok sasaran untuk kemudian menjadikannya pertimbangan dalam menyusun
agenda advokasi dan kegiatan di setiap program pilar serta penilaian kinerja
dan indikator program. Peran TWG yang lain adalah memberi masukan teknis dalam
memandu review proposal LSM, dan membantu menjaga kualitas program selama
pelaksanaan Tahap 2 secara keseluruhan. TWG juga berperan dalam
mengidentifikasi target sasaran tambahan yang perlu mendapat dukungan dari
program ini, termasuk kemungkinan untuk melengkapinya dengan Lembaga Payung
baru.

 

Kerangka Hasil

Terlampir adalah
kerangka hasil kerja PNPM Peduli yang menunjukkan bahwa program yang didanai
bertujuan untuk mendukung gerakan sosial inklusi dan sekaligus menanggani isu
kemiskinan.

Inklusi sosial merupakan proses yang menempatkan
martabat dan kemandirian individu dan komunitas yang mengalami stigma dan
marginalisasi sebagai pelaku utama agar mereka dapat menentukan hal-hal yang
berkaitan dengan kesejahteraan mereka dalam aspek ekonomi, sosial, politik dan
budaya. Proses ini menekankan kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi individu
dan masyarakat yang terpinggirkan untuk mencapai kualitas hidup yang ideal
warga negara, terlepas dari perbedaan apapun.

Maksud, Tujuan dan Cakupan Midterm Review

Kegiatan midterm review ini merupakan upaya untuk melihat lebih dalam pendekatan
atau strategi yang digunakan oleh mitra CSO dalam mendorong Inklusi sosial di
wilayah kerja mitra CSO.

 

Kegiatan midterm review bertujuan untuk:

1.      
Melakukan pengukuran / penilaian atas
perkembangan dan hasil yang dicapai selama program berjalan 

2.      
Melakukan penilaian atas strategi atau
pendekatan yang digunakan

3.      
Menyediakan rekomendasi untuk perbaikan
intervensi dan keberlangsungan program di masa yang akan datang

 

Alur
Program 

Sebelum pencarian mitra pelaksana (CSO) untuk
Pilar Difabel (Orang dengan Disabilitas), The Asia Foundation mengadakan suatu
diskusi dengan melibatkan sejumlah individu yang selama ini bekerja untuk isu
difabilitas / disabilitas yang kemudian disebut dengan Kelompok Kerja (Pokja)
Inklusi Disabilitas. Pokja ini kemudian melaksanakan pertemuan pertama pada
tanggal 30 Oktober 2014 dan menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:

 

·        
Perlunya kolaborasi organisasi penyandang disabilitas (DPO) dengan
organisasi masyarakat sipil non-difabel. Salah satu yang dapat diupayakan untuk
mendorong proses inklusi sosial bagi penyandang disabilitas adalah
memfasilitasi interaksi penyandang disabiltas dan organisasi penyandang
disabilitas dengan organisasi masyarakat sipil non-difabel. Program-program
terkait peningkatan kapasitas diri dan organisasi bagi DPO maupun CSO
non-difabel dapat dilakukan melaui pendekatan ini.

 

·        
Untuk mendorong upaya inklusi sosial di dalam masyarakat dalam isu
disabilitas, dapat menggunakan pendekatan ke sejumlah pihak terkait:

§  Keluarga

§  Komunitas
Lokal

§  Pemerintah
Daerah (dari tingkat desa sampai Kabupaten).

§  Komunitas
ekonomi (pengusaha)

 

 

Teori
Perubahan (Theory of Change
)

Langkah
pertama yang dilakukan setelah mitra CSO terpilih dan mendapatkan hibah dari
The Asia Foundation adalah melakukan Lokakarya Teori Perubahan (Theory of
Change). Tujuan dari Lokakarya TOC ini adalah membangun pemahaman dan persepsi
yang sama antara TAF dan mitra CSO untuk program yang akan dilaksanakan,
terkait:

–         
Eksklusi sosial yang dihadapi oleh kelompok sasaran

–         
Perubahan yang diinginkan

–         
Strategi yang dirancang

–         
Faktor kunci untuk memastikan tercapainya perubahan yang diinginkan  

Lokakarya
ini dilaksanakan bersama antara pengelola program di mitra CSO, pemangku
kepentingan (aparat pemerintah, penyedia layanan, dan lainnya) serta penerima
manfaat di lokasi program.

Tujuan Lokakarya TOC:

–         
Mendapatkan data dasar (base line) tentang teori perubahan strategi
mitra CSO, yang berguna untuk evaluasi

–         
Menguji desain program mitra
CSO melalui pandangan kritis dari orang luar

–         
Melakukan penilaian (assesment) terhadap kapasitas CSO guna
memastikan bantuan teknis yang diperlukan CSO untuk menjalankan program

Hasil yang diharapkan dari
lokakarya ini, meliputi:

–         
Narasi teori perubahan CSO
termasuk diagram “perubahan sosial” (peta aktor + kegiatan + hubungan
antaranya)

–         
Umpan balik tentang desain
program dan bantuan teknis yang dibutuhkan

Gender dan Difabilitas / Disabilitas

Salah
satu strategi yang didorong oleh Program Peduli dalam melihat eksklusi sosial
yang dialami oleh difabel (orang dengan disabilitas) dengan alat analisa gender.
Alat analisa gender yang digunakan adalah lima bentuk ketidak-adilan
gender sebagai parameter  umum untuk
mengukur terjadinya diskriminasi berbasis prasangka gender. Kelima parameter
dimaksud adalah:

–         
stereotype gender,

–         
subordinasi,

–         
kekerasan berbasis gender,

–         
pemiskinan,

–         
beban kerja yang berlipat ganda. 

Kerangka analisis gender ini
digunakan untuk melihat cara diskriminasi berbasis gender bekerja melalui
prasangka /steroptype gender yang kemudian berpengaruh pada  Akses, Kontrol dan Partisipasi  perempuan pada masing-masing kelompok untuk
mencapai Manfaat pembangunan 
(AKPM). 

 

Penggunaan Laporan Midterm Review

Laporan Midterm
Review ini akan digunakan untuk:

1.       Sumber informasi bagi keberhasilan dan tantangan dalam
pelaksanaan Program Peduli Pilar Difabel (Orang dengan Disabilitas).

2.       Melakukan
penilaian atas kesesuaian, relevansi, effektifitas dan efisiensi dalam
mejalankan program.

3.       Referensi bagi penyusunan strategi pengembangan Program
Peduli Pilar Difabel (orang dengan disabilitas), khususnya untuk tahun program
2017 – 2018

4.       Referensi bagi stakeholder lain (TAF, Mitra Payung
Program Peduli, Mitra Lembaga CSO, organisasi lain yang mengerjakan isu difabel
dan pemerintah) dalam upaya
memajukan / mempromosikan inklusi sosial bagi difabel (orang dengan
disabilitas) yang terhubung dengan pelaksanan UU Penyandang Disabilitas No. 8 /
2016.

 

Sumber Informasi

Program Peduli untuk Pilar Difabel (Orang
dengan disabilitas) saat ini telah memiliki 6 mitra pelaksana Lembaga Swadaya
Masyarakat dan / atau Organisasi Penyandang Disabilitas (DPO) yang bekerja di
12 kabupaten / kota di 8 Provinsi. Mereka adalah:

 

No.

Organisasi Mitra Lokal

Alamat Mitra

No Telpon

Nama Pimpinan Organisasi

Wilayah Program

1.

KARINA KAS

Gedung Bela Rasa

Jl. Panuluh 377A, Pringwulung

Depok, Sleman, Yogyakarta 55284

 

(0274) 
552126

 

Antonius Banu Kurnianto

·        
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

·        
Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah

2.

SAPDA

Komplek BNI No. 25, Patangpuluhan,
Wirobrajan, Yogyakarta.

 

(0274) 384066

Nurul Saadah Andriani

·        
Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan

·        
Kabupaten Jember, Jawa Timur

3.

SIGAB

Jl. Wonosari KM 8, Dsn. Gamelan, Sendangtirto,
Berbah, Sleman, Yogyakarta.

(0274) 2840056

 

Moh. Joni Yulianto

·        
Kabupaten Sleman, Yogyakarta

·        
Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta

4.

YASMIB

Jl. Tamalate V No. 48,  Makassar, 90222

(0428) 22546

Abdul Azis Paturungi

·        
Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

·        
Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

5.

Yayasan Bahtera

Jl. Palapa No. 5, RT 07
/ RW 02, Kel. Mality,  Kota Waikabubak,
Sumba Barat

082 236 721 168

Martha Rambu Bangi

·        
Kabupaten Sumba Barat, NTT

·        
Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT

6.

PATTIRO

Jl. Raya Ragunan – Kompleks
Perumahan Kejaksaan Agung

Gg. Mawar Blok G35, Pasar
Minggu, Jakarta Selatan

(21) 7591 5498 (21) 7591 5546

Sad Dian Utomo

·        
Kabupaten Lombok Barat, NTB

·        
Kota Sorong, Papua Barat

 

Adapun dokumen-dokumen yang dapat digunakan sebagai
sumber referensi pelaksanaan evaluasi:

1.       Naskah Eksklusi Sosial Difabel (orang dengan disabilitas)

2.       Proposal mitra pelaksana CSO serta dokumen hibah (LG) TAF
dan mitra pelaksana.

3.       Catatan / Laporan Lokakarya TOC

4.       Laporan Snapshot Program Peduli oleh Donna Holden dan
Wahyu W. Basjir.

5.       Laporan narasi Program MIS / MEL /MSC

 

 

Metodologi Kegiatan

Kegiatan Midterm Review Program Peduli Pilar Difabel (orang dengan disabilitas)
ini akan melalui pendekatan sebagai berikut:

–         
Kajian dokumen program

–         
Wawancara stakeholder

–         
Kunjungan lapangan

–         
Penggunaan kuesioner

–         
Focus groups discussion

–         
Dan pendekatan partisipatoris lainnya
dalam mendapatkan informasi.  

 

Tahapan dan Jadwal Kegiatan

Tahapan proses pemilihan konsultan dan perkiraan tanggal kegiatan

–         
Batas waktu pengiriman aplikasi menjadi
konsultan                 15
Oktober 2016

–         
Penandatangan kontrak dan pertemuan
awal                            31 Oktober
2016

–         
Pekerjaan lapangan dan penulisan
laporan                                 1
– 24 November 2016

–         
Penyerahan Laporan                                                                        25
November 2016

 

Hari / tanggal

Kegiatan

Stakeholder

Lokasi

Hari 1 – 3

 

Penandatanganan kontrak kerja dan persetujuan
akan disain kegiatan evaluasi

Program Peduli:

HR

Program Officer

Assistant Program Officer

Kantor TAF

Jakarta

Hari 4

 

 

Pertemuan awal dengan TAF selaku mitra pengampu
Pilar Difabel (orang dengan disabilitas)

Direktur Program Peduli

Program Officer

Grant Officer / Grant Coordinator

Assistant Program Officer

MIS / MEL Officer (Farsight)

Kantor TAF

Jakarta

Hari 5

Pertemuan dengan DFAT selaku donor Program Peduli

Program Manager

Kantor TAF / Kantor DFAT

Pertemuan dengan Kemenko PMK / Kemensos

Kedeputian VII PMK

Asdep PMK

Kedeputian II PMK

Kemensos (Direktur Rehabilitasi Sosial PD)

 

Kantor PMK

Hari 6

Pertemuan dengan Mitra CSO

Perwakilan mitra
KARINA KAS

PATTIRO

SAPDA

SIGAB

Yayasan Bahtera

YASMIB

 

Yogyakarta

Hari 6 – 14

Pengumpulan data di lapangan

Penerima manfaat:

–         
Difabel

–         
Keluarga Difabel

Aparat pemerintah:

–         
Desa / Kelurahan

–         
Kecamatan

–         
Kabupaten / Kota

Penyedia layanan

Lainnya

Sleman

Kulon Progo

Klaten

Sukoharjo

Jember

Banjarmasin

Sumba Barat

Sumba Barat Daya

Gowa

Bone

Sorong

Lombok Barat

Hari 14 – 18

Penulisan laporan sementara

 

 

Hari 19

Pemaparan Laporan Evaluasi sementara 

Program Peduli TAF

DFAT

Kemenko PMK

Kantor TAF / Kantor PMK

Hari 20 – 24

Perbaikan laporan (jika dibutuhkan)

 

 

Hari 25

Presentasi Laporan Evaluasi 

Program Peduli TAF

Mitra Pelaksana CSO

DFAT

Kemenko PMK

Kantor TAF

 

Pertanyaan kunci

Beberapa pertanyaan kunci yang dapat
digunakan sebagai acuan

 

Kemitraan dan Strategi Program

–         
Apakah CSO terpilih telah memenuhi
kebutuhan pencapaian program?

–         
Apakah CSO terpilih telah menjangkau
sasaran penerima manfaat dengan tepat?

–         
Bagaimana efektifitas kemitraan yang
dijalankan? (CSO dengan TAF, CSO dengan mitra lain)

–         
Apakah CSO terpilih memiliki
kemampuan dan sumber daya dalam menjalankan program? 

 

Pembelajaran

–         
Pembelajaran apa yang didapat dari
program ini?

–         
Apa pengalaman terbaik dan terburuk
dari pelaksanaan program?

–         
Apakah ada kesimpulan yang dapat
ditarik dari pelaksanaan program yang dijalankan oleh CSO? 

 

Strategi

–         
Apakah kegiatan yang dilakukan
(program) sejalan dengan prioritas mitra CSO dan pemerintah?

–         
Apakah perspektif inklusi sosial dan
prioritas lainnya seperti gender, telah terintegrasi di dalam pelaksanaan
program?

 

Keberlangsungan

–         
Apakah intervensi atau mekanisme yang
dikembangkan mitra CSO memiliki potensi untuk didukung secara mandiri (tanpa
dukungan eksternal) di masa yang akan datang?

–         
Apakah ada kemungkinan bahwa hal
tersebut akan bisa berkelanjutan tanpa dukungan dari  luar (donor)?

–         
Apa kesimpulan dan rekomendasi yang
dapat ditarik untuk memperbaiki keberlanjutan?

 

Format
Laporan Midterm

a.      
Pengantar

b.     
Ringkasan Eksekutif

c.      
Latar belakang

d.     
Tujuan Kegiatan Review

e.     
Metodologi

f.       
Temuan dan Kesimpulan

g.      
Catatan dan Rekomendasi (Usulan)

h.     
Pembelajaran

 

Kualifikasi dan kemampuan yang dibutuhkan

1.       Individu yang memiliki pengalaman, sekurangnya 5 tahun, dalam melakukan kegiatan evaluasi, penilaian
(assessment) program pemberdayaan masyarakat ataupun program pembangunan.

2.       Latar belakang pendidikan: sosiologi, antropologi atau
ilmu sosial lain

3.       Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Inklusi
sosial, khususnya bagi kelompok marginal (untuk isu difabilitas / disabilitas
diutamakan).

4.       Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pendekatan
teori perubahan

 

Logistik dan Prosedur

Pengaturan logistik dan prosedur pelaksanaan
kegiatan midterm review

1.       The Asia Foundation akan melakukan pengaturan logistic
bagi team review: transportasi darat, udara dan laut (jika
dibutuhkan) dan akomodasi  hotel yang
dibutuhkan selama kegiatan evaluasi berlangsung

2.       Lembar wawancara / dokumen penggalian informasi yang akan
digunakan disiapkan dan disimpan oleh konsultan dan akan diserahkan ke TAF
bersamaan dengan penyerahan laporan

3.       Konsultant
diharapkan mengikuti ketentuan The Asia Foundation
mengenai kesetaraan gender dan perlindungan hak anak. Hal ini akan tertuang
dalam dokumen kontrak kerja antara The Asia Foundation dan Evaluator.

 

Pengaturan Kegiatan Review

 

Anggaran

Untuk kegiatan Evaluasi ini maka disediakan
pengaturan sebagai berikut

1.       Honor profesi yang akan ditentukan berdasarkan nilai yang
digunakan terakhir (salary history) dengan jumlah maksimal hari kerja yang
dibutuhkan 25 hari kerja.

2.       Biaya / anggaran untuk kebutuhan mobilitas di Jakarta
(akan disediakan voucher Taxi Bluebird)

3.       Evaluator dapat mengajukan pergantian biaya administrasi
/ material yang dibutuhkan (photocopy, voucher pulsa, internet, dan lainnya)
dengan maksimum nilai Rp 2,000,0000 dengan dilengkapi dokumen pendukung berupa
bukti pembayaran yang sah.

4.       Kebutuhan logistic (transportasi dan akomodasi) akan
mengikuti standar kebijakan berpergian yang dimiliki oleh TAF.

 

Penanggung Jawab Kegiatan

Kegiatan Review Pilar Difabel (Orang dengan disabilitas) Program Peduli
akan menjadi tanggung jawab dari:

 

Natalia Warat

Program Officer, Program Peduli (Pilar Difabel)

The Asia Foundation.

HOW TO APPLY

Please send your application letter and CV to The Asia Foundation by
e-mail to hrd@tafindo.org by October 15, 2016. Please write “Consultant for Midterm Review Pilar Disability Peduli Program” on
the Subject of the e-mail.

Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram