Pengumpulan Data : Interview/Wawancara

interview section

Istilah interview/wawancara tidak hanya digunakan dalam dunia pekerjaan saja, tetapi juga digunakan sebagai salah satu metode pengumpulan data untuk evaluasi organisasi nirlaba.

Wawancara merupakan metode untuk mengajukan pertanyaan kuantitatif atau kualitatif secara lisan kepada objek pengamatan/responden. Pertanyaan kuantitaif cenderung memiliki jawaban yang spesifik dan dapat dikategorikan maupun dianalisis secara numerik. Pertanyaan kualititif lebih bersifat terbuka yaitu responden memberikan tanggapan atas pertanyaaan yang diajukan. Wawancara biasanya dilakukan untuk evaluasi program bersifat kualitatif namun juga mencangkup beberapa pertanyaan kuantitatif.

Terdapat 3 (tiga) pendekatan wawancara kualitatif yang bervariasi dalam tingkat strukturnya dan dapat dikombinasikan dalam penggunaannya :

  1. Wawancara percakapan informal

Dalam hal ini, wawancara informal dilakukan tidak berstruktur, kata-kata yang digunakan dari pertanyaan dan topik yang akan dibahas tidak ditentukan sebelumnya. Biasanya jenis wawancara ini sering terjadi secara spontan.

2. Wawancara semi-formal

Wawancara ini mencakup garis besar topik atau isu yang akan dibahas, dalam prakteknya pewancara bebas untuk memvariasikan kata-kata dan penyampaiannya.

3. Wawancara formal (Standardized-Open Minded Interview)

Wawancara ini dilakukan secara terstruktur dan mencangkup seperangkat protokol pertanyaan. Pewawancara tidak diperkenankan untuk melakukan fleksibiltas kata-kata atau mengubah konten pertanyaan yang sudah disediakan.

Kapan sebaiknya wawancara digunakan dalam pengumpulan data untuk evaluasi?

  1. Metode wawancara digunakan untuk mendapatkan lebih banyak informasi mendalam tentang persepsi, wawasan, sikap, pengalaman, atau kepercayaan. Wawancara berguna untuk mengumpulkan perspektf subjektif dari responden.
  2. Metode wawancara digunakan apabila organisasi ingin mengevaluasi perbedaan individu antara pengalaman dan hasil responden. Dengan demikian, kamu dapat membandingkan respon mereka dan menganalisis bagaimana perbedaan individu dapat merefleksikan program organisasi.
  3. Metode wawancara digunakan sebagai tindak lanjut metode lainnya. Wawancara adalah cara yang tepat untuk digunakan setelah metode evaluasi lainya seperti observasi, kuisioner, ulasan dokumen dan sebagainya.

Bagaimana mengembangkan wawancara sebagai metode pengumpul data?

  • Menentukan fokus organisasi.

Seperti halnya dengan kuisioner, sebuah pertanyaan harus terfokus pada tujuan yang ingin dicapai organisasi. Pastikan bahwa pertanyaan yang akan disampaikan saat wawancara dapat menjawab pertanyaan evaluasi.

  •  Mengembangkan panduan wawancara.

Panduan wawancara tertulis akan bervariasi tergantung pada jenis wawancara yang akan dilakukan. Misalnya dalam wawancara informal, kamu mungkin tidak akan menyiapkan panduan wawancara , namun untuk wawancara semi-formal/terstrukur dan formal/open ended interview panduan wawancara mencangkup topik spesifik yang akan dibahas, dengan pengembangan dan urutan pertanyaan yang terstruktur. Selain itu dibutuhkan probe untuk mengklarifikasi respon terhadap sebuah pertanyaan yang lebih terperinci.

  • Latih pewawancara.

Dalam pelaksanaan wawancara, dibutuhkan seorang pewawancara yang mampu menangkap berbagai respon yang disampaikan oleh responden. Biasanya pewawancara adalah seorang professional yang ahli dalam bidangnya, namun ada kalanya kamu perlu memberikan panduan dan pelatihan kepada pewawancara sehingga respon yang diharapkan dapat terjawab.

  • Memastikan kerahasiaan responden

Hal ini mutlak dilakukan sesuai kesepakatan antara pewawancara dan responden. Tentukan bagaimana kamu akan menjaga kerahasiaan responden dan berikan informasi kepada responden bagaimana kamu melakukannya.

Berikut merupakan tips yang bisa kamu gunakan apabila kamu melakukan suatu wawancara/ bertugas sebagai seorang pewawancara (interviewer)

  1. Membangun kepercayaan dan hubungan baik kepada responden.

Sekalipun proses wawancara itu mungkin hanya berlangsung satu kali, namun penting untuk memastikan bahwa responden merasa nyaman menjawab pertanyaan yang diajukan. Salah satunya yaitu dengan menjamin kerahasiaan respon yang akan disampaikan sehingga responden akan menjawab pertanyaan secara jujur. Selama wawancara berlangsung, tunjukkan rasa empati, dengarkan secara aktif, dan pertahankan kontak mata. Coba untuk mengajukan pertanyaan yang kurang sensitif sebelum mengajukan pertanyaan yang lebih sensitif dan mendalam.

  1. Pertahankan sikap netral.

Dalam suatu wawancara, sebagian besar responden mungkin tidak ingin mengatakan hal-hal yang kontroversial, namun sebagai pewawancara kamu tidak boleh menunjukkan reaksi yang berlebihan atau emosi yang kuat di depan responden.

  1. Tetap dalam kendali wawancara.

Sekalipun proses wawancara tersebut belangsung secara informal, penting untuk tetap mengatur arah wawanca. Hal ini bertujuan agar responden tidak kehilangan topik atau berbicara diluar konteks yang didiskusikan.

Demikian pemaparan mengenai wawancara/interview dalam pengumpulan data untuk organisasi nirlaba. Wawancara yang baik adalah wawancara yang berlangsung dengan jujur, tanpanya unsur paksaan, dan jawaban yang realistis dengan kondisi yang ada. Oleh karena itu, pewawancara harus mampu menangkap poin penting yang disampaikan oleh responden,

 REFERENSI:

  1. Pahala Nainggolan (2012). Manajemen Keuangan Lembaga Nirlaba. Jakarta: Yayasan Integrasi-Edukasi.
  2. McNamara C. General Guidelines for Conducting Interviews. Authenticity Consulting, LLC . Available at http://www.managementhelp.org/evaluatn/intrview.h tm
Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram