RFP: Penyusunan Detailed Engineering Design dan Konstruksi Artificial Arboreal Bridge untuk Koridor Orang Utan Tapanuli di Ekosistem Batang Toru

Konservasi Indonesia adalah yayasan nasional yang bertujuan mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. Kami adalah mitra utama Conservation International di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: www.konservasi-id.org 

 

Kami saat ini sedang mencari konsultan untuk dapat memberikan layanan dibawah ini:  

Permintaan Proposal

 

Judul: Penyusunan Detailed Engineering Design dan Konstruksi Artificial Arboreal Bridge untuk Koridor Orang Utan Tapanuli di Ekosistem Batang Toru

RFP No: 024/XII/19/2025

Tanggal Penerbitan: 19 Desember 2025

 

Permintaan Proposal

 

Judul: Penyusunan Detailed Engineering Design dan Konstruksi Artificial Arboreal Bridge untuk Koridor Orang Utan Tapanuli di Ekosistem Batang Toru

RFP No: 022/I/22/2026

Tanggal Penerbitan: 22 Januari 2026

 

 

  1. Latar Belakang

Sebagai salah satu wilayah yang menjadi pusat keanekaragaman hayati di Pulau Sumatra, Ekosistem Batang Toru (EBT) memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan keanekaragaman hayati yang penting untuk dilindungi. Sebagian besar wilayah EBT masuk dalam kategori Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci/Penting (Key Biodiversity Area), yang merupakan salah satu tempat terpenting di dunia dalam perlindungan dan pelestarian spesies beserta habitatnya. Terdata 67 spesies mamalia, 287 spesies burung, dan 110 spesies herpetofauna yang hidup di lanskap ini (Perbatakusuma et al., 2006). Bagi orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang dinyatakan sebagai spesies baru pada tahun 2017 (Nater et al., 2017) dan berstatus konservasi Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN, EBT merupakan satu-satunya tempat tinggal dengan estimasi populasi ~800 individu (Sloan et al., 2018). Di samping itu, kawasan EBT juga memiliki potensi dan nilai penting secara ekonomi, seperti pemanfaatan DAS Batang Toru sebagai daerah tangkapan air bagi PLTA, pengembangan potensi panas bumi, aktivitas pertambangan, dan penyangga kehidupan masyarakat sekitarnya (Arief et al., 2022). Pengembangan potensi-potensi yang dimiliki kawasan EBT untuk kepentingan ekonomi ini lambat laun berpengaruh pada keutuhan kawasan EBT.

 

Saat ini, secara lanskap, EBT terfragmentasi oleh jalan yang membelah kawasan EBT menjadi dua blok habitat, yaitu Blok Barat dan Blok Timur. Hal ini menyebabkan terputusnya konektivitas ekosistem atau kantung habitat hidupan liar di dalam kawasan EBT. Berdasarkan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025-2045 (BAPPENAS, 2024), melestarikan atau menciptakan konektivitas diakui sebagai strategi utama untuk melindungi keanekaragaman hayati, mempertahankan ekosistem yang layak dan populasi satwa liar, serta memfasilitasi pergerakan dan adaptasi populasi satwa liar terhadap perubahan iklim. Peningkatan konektivitas ekosistem salah satunya dapat diupayakan melalui pembangunan koridor hidupan liar. Dalam konteks EBT dan mempertimbangkan kondisi existing, urgensi pembangunan koridor hidupan liar dapat dikatakan memiliki kecenderungan yang relatif tinggi, mengingat: 1) status kawasan EBT yang bukan merupakan KK/Kawasan Konservasi; 2) pengelolaan kawasan EBT yang diampu oleh banyak pihak dengan kepentingannya masing-masing; 3) masifnya tren pembangunan dan/atau pengembangan potensi di dalam dan/atau sekitar kawasan EBT.

 

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan bersama mitra pembangunan terkait telah melakukan identifikasi serta kajian kelayakan terhadap beberapa lokasi potensial koridor di Kabupaten Tapanuli Selatan. Koridor Bulu Mario dan “Aek Malakkut” adalah dua koridor terbaru yang telah dikaji kelayakannya pada tahun 2025. Salah satu hasil kajian tersebut adalah teridentifikasinya lokasi-lokasi prioritas intervensi untuk meningkatkan konektivitas habitat hidupan liar, khususnya orang utan tapanuli, melalui konstruksi koridor artifisial berupa artificial arboreal bridge[1] di patch koridor Bulu Mario dan “Aek Malakkut”. Untuk menindaklanjuti hasil kajian tersebut secara konkrit, diperlukan penyusunan Detailed Engineering Design (DED) berdasarkan validasi lapangan, serta konstruksi 1 (satu) unit pilot artificial arboreal bridge di lokasi terpilih sebagai proof-of-concept yang dapat direplikasi pada lokasi potensial lainnya.

 

  1. Gambaran Umum Proyek

Tujuan umum dari konsultansi ini adalah menyediakan perencanaan teknis yang komprehensif serta mengimplementasikan desain teknis koridor artifisial untuk mendukung konektivitas habitat orang utan tapanuli (melalui kegiatan penyusunan Detailed Engineering Design (DED) berdasarkan validasi lapangan serta konstruksi pilot artificial arboreal bridge).

 

Secara khusus, konsultansi ini bertujuan untuk:

  1. Melakukan validasi lapangan secara komprehensif terhadap rekomendasi titik konstruksi koridor artifisial.
  2. Menyusun Detailed Engineering Design (DED) yang mencakup (namun tidak terbatas pada): analisis alternatif desain dan rekomendasi tipe jembatan, gambar kerja, spesifikasi teknis, estimasi biaya konstruksi, serta analisis risiko berdasarkan hasil validasi lapangan dan standar teknis yang berlaku.
  3. Melaksanakan konstruksi 1 (satu) unit pilot artificial arboreal bridge di lokasi terpilih sesuai DED yang telah disusun.
  4. Menyusun SOP terkait yang dibutuhkan sebelum, saat, dan sesudah konstruksi artificial arboreal bridge di lokasi terpilih (seperti: SOP instalasi jembatan, SOP inspeksi rutin, SOP pemeliharaan preventif dan korektif, SOP pemantauan penggunaan jembatan oleh orang utan).

 

  1. Rincian Pengajuan

a. Batas akhir. Proposal harus diterima paling lambat tanggal 6 Februari 2026 pukul 17:00 WIB. Keterlambatan pengajuan tidak akan diterima. Proposal harus diajukan melalui e-mail ke grantcontractid@konservasi-id.org dan dekarini@konservasi-id.org, ewidyastuti@konservasi-id.org. Semua proposal harus diajukan sesuai dengan panduan yang tercantum dalam RfP ini.

b. Masa berlaku penawaran. 120 hari sejak batas akhir pemasukan penawaran.

c. Klarifikasi. Pertanyaan dapat disampaikan ke grantcontractid@konservasi-id.org dan dekarini@konservasi-id.org, ewidyastuti@konservasi-id.org, paling lambat pada tanggal dan waktu yang ditentukan dalam jadwal di bawah ini. Subjek e-mail harus memuat nomor RfP dan judul RfP. KI akan menanggapi secara tertulis klarifikasi yang disampaikan paling lambat pada tanggal yang ditentukan dalam jadwal di bawah ini. Tanggapan terhadap pertanyaan yang mungkin menjadi kepentingan bersama semua penawar akan di-posting ke situs web KI dan/atau dikomunikasikan melalui e-mail.

d. Perubahan. Setiap saat sebelum batas akhir penyampaian proposal, KI dapat, dengan alasan apapun, mengubah dokumen RfP melalui perubahan yang akan di-posting di situs web KI dan/atau dikomunikasikan melalui e-mail.

[1] Artificial arboreal bridge adalah struktur buatan pada ketinggian kanopi yang dirancang untuk memfasilitasi pergerakan orang utan dan satwa arboreal lainnya melintasi area yang terfragmentasi. Istilah ini digunakan secara umum dan tidak merujuk pada satu tipe desain jembatan tertentu.

 

4. Lini Masa Proposal

 

Panggilan Permintaan Proposal/RfP 22 Januari 2026
Klarifikasi disampaikan ke KI 26 Januari 2026
Klarifikasi diberikan kepada penawar yang diketahui 29 Januari 2026
Tenggat waktu penyampaian proposal ke KI 6 Februari 2026
Wawancara (jika dibutuhkan) 9/10 Februari 2026
Seleksi akhir 12 Februari 2026

More Information

0408100
Visit Today : 1282
This Month : 52294
Hits Today : 1470
Total Hits : 1382048
Who's Online : 10
Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram